Cari Tahu Legenda Jembatan Kota Intan

SALISMA.COM (SC) – BERWISATA ke Kota Tua kini menjadi favorit bagi warga Jakarta. Kini, tempat bersejarah tersebut sudah menjadi spot nongkrong asik untuk foto-foto, salah satunya Jembatan Kota Intan. Cari tahu legenda pembuatan jembatan bersejarah itu.

Jembatan ini berlokasi di Jalan Tamansari yang menjembati kali besar. Hingga kini, jembatan berwarna merah, dan megah ini sering diburu anak muda untuk sekadar duduk santai atau berfoto ria.

Struktur bangunan bernuasana Belanda ini memberikan suasana indah ketika diunggah ke media sosial. Selain itu, ketika menjelang malam hari, matahari akan terlihat manis ketika turun dari bumi.

Kendati demikian, Jembatan Kota Intan punya banyak cerita di masa lalu, khususnya saat Inggris dan Belanda menduduki kawasan Batavia. Di mana jembatan sudah dibangun sejak 1962 dan usianya sudah ratusan tahun lamanya.

Awalnya, jembatan ini merupakan jembatan biasa yang diberi nama Engelse Brug atau Jembatan Inggris. Panjang ukurannya mencapai 30 meter sementara tinggi 4,43 meter, dan material lantai terbuat dari kayu.

Hadirnya jembatan berfungsi untuk membatasi Benteng Belanda dan Benteng Inggris. Di mana, keduanya berlokasi bersebrangan dan dibatasi oleh Kali Besar.

Namun, seiring termakan waktu di tahun 1629, jembatan rusak dan dibenahi oleh pihak Belanda. Kemudian, berganti nama menjadi De Hoenderpasar Brig, atau jembatan Pasar Ayam.

Tetapi, pembangunan kembali rusak, dan di tahun 1655 kembali diperbaiki dan berubah nama menjadi Jembatan Pusat atau Het Middelpunt Brug.

Fungsinya juga berubah, dari hanya membatasi benteng, hingga menjadi tempat lalu lintas perahu. Jembatan bisa diangkat ketika perahu melintas, dan mencegah kerusakan karena banjir yang melanda.

Di tahun 1972, jembatan kemudian diambil ahli oleh DKI Jakarta yang saat itu dipimpin oleh Gubenur Ali Sadikin. Kemudian, jembatan ini diganti namanya menjadi Jembatan Kota Intan, dan menjadi salah satu situs bersejarah di Ibu Kota.

Intip yuk foto-foto ciamik para pengunjung yang pernah ke sana, salah satunya Andini Anggias yang memotret jembatan dari bagian ujung sehingga terlihat atap yang jadi pondasi jembatan. (**)