Memilukan! Bayi 18 Bulan Jadi Korban Penembakan Brutal di Gereja Texas

Pejabat pemerintah mengatakan, korban termuda dalam penembakan massal yang terjadi di sebuah gereja di Texas baru berusia 18 bulan. Sementara itu, rentang usia ke-27 korban tewas dikatakan antara 18 bulan sampai 77 tahun. Aksi penembakan itu juga melukai 20 lainnya.

Pihak berwenang mengatakan bahwa orang yang diduga melakukan serangan tersebut diperkirakan telah meninggal karena luka tembak yang ditimbulkannya sendiri setelah menabrak mobilnya. Devin Patrick Kelley dikejar oleh dua anggota komunitas Sutherland Springs saat dia terlibat dalam kecelakaan tersebut.

Pejabat mengidentifikasi Kelley sebagai orang yang mulai menembaki Gereja First Baptist Sutherland Springs, Texas. Laporan lain menunjukkan bahwa Kelley memiliki masa lalu yang kejam. Dia dikurung selama 12 bulan dan dipulangkan dari Angkatan Udara atas tuduhan bahwa dia menyerang istri dan anaknya.

“Tidak ada jalan bagi mereka yang berkumpul di gereja untuk melarikan diri,” kata Sheriff Wilson County Joe D. Tackitt Jr  seperti dilansir dari International Business Times, Selasa (7/11/2017).

Ia menambahkan bahwa pria bersenjata itu mengenakan perlengkapan taktis berwarna hitam dan membawa senapan serbu serta dua pistol.

Pihak berwenang mengatakan bahwa ibu mertua Kelley telah menerima pesan teks yang mengancam dirinya. Mertua Kelley terkadang menghadiri ibadah di gereja tersebut, namun tidak ada pada saat serangan itu terjadi.

Direktur Regional Keamanan Wilayah Departemen Texas Freeman Martin mengatakan bahwa penembakan tersebut tidak bermotif ras atau agama.

Sementara itu, seorang manajer resor mengatakan bahwa Kelley baru saja mulai bekerja menjadi satpam. Pejabat mengatakan bahwa dia tidak diizinkan secara hukum untuk membawa senjata api. Polisi mengatakan bahwa Kelley telah memanggil ayahnya setelah ditembak dan mengatakan kepadanya bahwa dia tidak berpikir dia akan bertahan hidup.

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump menggambarkan pria bersenjata itu sebagai “orang yang sangat gila” dan mengatakan bahwa penembakan tersebut disebabkan oleh “masalah kesehatan mental pada tingkat tertinggi”.