oleh

Situs Cagar Budaya Masjid Raya Pekanbaru Dicabut, Ini Pembelaan Kamsol

-News-31 views

SALISMA.COM (SC), PEKANBARU – Dinas Pendidikan pada tahun 2016 masih digabung dengan Dinas Kebudayaan. Kepala Dinasnya Kamsol. Dia lah yang mengeluarkan sepucuk surat usulan pencoretan situs cagar budaya Masjid Nur Alam atau dikenal dengan Masjid Raya Pekanbaru.

Kamsol berdalih, ketika itu dirinya bukan melakukan pencoretan, tapi mengusulkan agar cagar budaya itu sebaiknya dihilangkan saja, karena menurur dia, bentuk fisik dari bangunan masjid itu sudah tidak sama dengan bentuk aslinya.

“Situs cagar budaya itu bukan dicoret, tapi kondisi yang ada di situ tidak lagi sesuai dengan undang-undang yang ada. Masjid itu sudah tidak lagi sama dengan sebelumnya, kalau status seperti itu sudah hilang, maka sulit masjid itu untuk dikatakan sebagai cagar budaya,” katanya, Rabu (26/04/2017).

Dia menambahkan, itu baru aspek dari bentuk fisik Masjid Raya Pekanbaru. Pemprov Riau melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan pada tahun 2016 sudah mengeluarkan sepucuk surat. Surat itu ditujukan kepada saudara Dendi Gustiawan dan Januar Uzir. Mereka itu pemerhati cagar budaya di Riau.

Surat dengan nomor 800/DPK/6.0/SECBMSN/2016 ini dibuat pada tanggal 18 Februari 2016 yang menyatakan bahwa Masjid Raya Nur Alam Pekanbaru, tidak lagi sebagai cagar budaya yang dimiliki Riau, dan ditandatangani oleh Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Riau, Kamsol. Namun Kamsol membantah.

“Kami tidak ada merekomendasikan cagar budaya itu dicoret,” tambahnya.

“Itu bukan pencoretan. Kalau dicocokkan kembali dengan undang-undang tidak masuk sama sekali kalau masjid itu sebagai situs cagar budaya. Dalam surat itu hanya meminta kepada pihak kementerian terkait langkah apa yang harusnya diambil dengan kondisi masjid itu saat ini,” ujar Kamsol.

Langkah itu dilakukan untuk memperjelas peruntukan anggaran pemerintah yang dikucurkan pada pelaksanaan pembangunan masjid itu. Sementara ini, semuanya keputusan ada di pihak kementerian dan UPT Cagar Budaya Batusangkar. “Mereka yang lebih dominan untuk memutuskan,” katanya. (sc3)