Minim Anggaran, Meranti Batalkan Lomba Renang Selat Air Hitam

SALISMA.COM (SC), SELATPANJANG – Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Kepulauan Meranti membatalkan lomba renang menyeberangi Selat Air Hitam yang direncanakan digelar tahun ini.

Pembatalan tersebut karena anggaran Disparpora tidak cukup menggelar iven akbar tersebut. “Dana yang tersedia hanya Rp 100 juta, sementara kita melibatkan perenang dari daerah lain, bahkan luar negeri,” ujar Kepala Disparpora Kabupaten Kepulauan Meranti, Ismail Arsyad, Minggu (16/7/2017).

Sebagai penggantinya, Disparpora akan menggelar pacu sampan layar di Selat Air Hitam. Kendati demikian, pihaknya masih pesimistis iven itu dapat terlaksana. Sebab Pemkab Meranti akan melakukan rasionalisasi anggaran di APBD Perubahan. “Ini juga belum pasti digelar, karena kabarnya ada rasionalisasi anggaran,” ujarnya.

Padahal, menurut Ismail Arsyad geografis Meranti yang berbentuk kepulauan merupakan potensi yang besar untuk dijadikan destinasi wisata. Jika dikelola dengan baik, tidak menutup kemungkinan destinasi wisata bisa menambah pundi-pundi PAD Meranti.

“Kita akui, Meranti saat ini masih kekurangan event wisata untuk menambah kunjungan di Meranti,” ujarnya.

Sebelumnya, lomba menyeberangi selat yang memisahkan Pulau Tebingtinggi dan Pulau Rangsang ini akan melibatkan sejumlah atlet dari dalam dan luar negeri. Lomba ini digelar sebagai bentuk pengembangan wisata bahari di Kepulauan Meranti.

Ismail Arsyad menjelaskan, wisata bahari tersebut juga akan melibatkan para nelayan yang biasa mencari ikan di perairan Selat Air Hitam. Nelayan-nelayan tersebut akan dilibatkan dalam pawai pompong dan lomba hias kapal layar. “Selain itu ada juga seni budaya yang digelar di sekitar Selat Air Hitam, seperti tari dan pagelaran musik,” jelas dia.

Dia menyebutkan, ke depan sejumlah iven wisata di Meranti akan disesuaikan dengan acara-acara budaya dan religi. Hal ini untuk menarik pengunjung dari mancanegara yang melakukan keuntungan wisata religi ke Meranti.

“Seperti tradisi sembahyang kubur yang kerap dilakukan oleh warga Tionghoa asal Malaysia, Singapura ke Selatpanjang. Wisman seperti itu yang kita manfaatkan untuk memperkenalkan potensi bahari di Meranti,” imbuh Ismail.

Menurut Ismail, selama ini ribuan pengunjung dari Singapura dan Malaysia hanya datang berkunjung untuk melakukan sembahyang belaka, setelah itu mereka kembali lagi ke negaranya masing-masing. Hal itu disebabkan, karena di Meranti tidak memiliki destinasi wisata yang dikelola dengan baik. (*)