Jam Makan Malam Ternyata Berpengaruh pada Risiko Kanker

SALISMA.COM (SC) – Kebiasaan makan malam ternyata memengaruhi risiko kanker payudara dan prostat. Hal ini terkait jam makan malam yang dipilih seseorang.

Dikutip dari detikfood, Star2 melansir bahwa (4/8), penelitian terbaru di Spanyol menemukan memilih jam makan malam lebih awal atau memberi jeda setidaknya 2 jam antara makan terakhir dan tidur, berhubungan dengan risiko lebih rendah terkena kanker payudara dan prostat.

Penelitian ini dilakukan Barcelona Institute for Global Health (ISGlobal) dengan melihat 621 pasien kanker prostat dan 1.205 pasien kanker payudara. Juga 872 partisipan pria dan 1.321 partisipan wanita sebagai kelompok kontrol. Penelitian bertujuan melihat apakah pilihan jam makan malam berhubungan risiko terkena dua kanker tersebut.

Peneliti juga mewawancara partisipan penelitian mengenai jam makan, tidur dan chronotype mereka. Pertanyaan ini bisa menunjukkan preferensi alami seseorang, apakah mereka lebih cenderung menjalani aktivitas di pagi atau malam hari.

Partisipan juga diminta mengisi Food Frequency Questionnaire untuk melihat kebiasaan makan mereka dan kepatuhan mereka untuk menjalani hal-hal yang direkomendasikan guna mencegah kanker.

Hasilnya partisipan yang menunggu 2-3 jam setelah makan sebelum akhirnya tidur, memiliki risiko lebih rendah 20% mengalami kanker payudara dan prostat, dibanding partisipan yang langsung tidur usai makan malam.

Makan malam sebelum jam 9 juga memiliki efek melindungi yang sama jika dibandingkan makan malam setelah jam 10. “Penelitian kami menyimpulkan bahwa kepatuhan terhadap pola makan diurnal dikaitkan dengan risiko kanker lebih rendah,” ujar penulis utama penelitan, Manolis Kogevinas.

Ia juga menyoroti pentingnya menilai ritme sirkadian dalam studi tentang diet dan kanker. Sementara itu, Dora Romaguera juga mencatat pentingnya melakukan penelitian lebih lanjut pada subjek manusia.

“Namun nampaknya hasil penelitian ini menunjukkan bahwa waktu tidur memengaruhi kapasitas kita untuk memetabolisme makanan,” kata Dora. Hasil keseluruhan penelitian ini diterbitkan online di International Journal of Cancer. (detikcom)