Impor Mobil Mewah Dihentikan, Importir Khawatirkan Hal Ini

SALISMA.COM (SC) – Rupiah semakin melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Wakil Presiden RI Jusuf Kalla memberikan pendapatnya agar barang impor mewah disetop. Salah satunya mobil mewah dengan mesin 3.000 cc ke atas.

Praktis, mobil-mobil super seperti Ferrari, Lamborghini, dan beragam supercar lainnya terancam disetop impornya untuk sementara. JK menilai, hal ini perlu dilakukan untuk meyakinkan masyarakat bahwa ini suasana berhemat.

Importir mobil mewah yang bermarkas di Pluit, Jakarta Utara, Prestige Image Motorcars mengaku setuju saja dengan kebijakan yang dikeluarkan pemerintah.

“Ya memang (untuk berhemat). Maka saya setuju, bahwa kita jangan terlalu pamer dulu agar tidak terjadi kecemburuan sosial. Saya setuju kalau saat ini kita jangan terlalu pamer kemewahan di saat ekonomi sulit dan dolar gila-gilaan, khawatirnya akan memancing kecemburuan sosial,” kata Presiden Direktur Prestige Image Motorcars Rudy Salim seperti dilansir detikOto, Rabu (5/9/2018).

Namun, kata Rudy, jangan dikesampingkan bahwa pembeli mobil mewah juga merupakan rakyat Indonesia yang kerja mati-matian, tidur lebih sedikit, kerja keras dan belajar banyak. Mereka juga mau menikmati hasil kerja kerasnya tersebut di Indonesia, dengan membeli dan menikmati mobil mewah, misalnya.

Khawatirnya lagi, orang kaya di Indonesia malah membeli mobil mewahnya di luar negeri sehingga uangnya malah ‘lari’ ke luar negeri. “Adanya mobil mewah orang menikmati uang di negara ini otomatis orang nggak ke mana-mana, duitnya di Indonesia terus,” tutur Rudy beberapa waktu lalu.

Rudy memandang, akar pokok masalah dolar ini disebabkan perang tarif dan hampir semua bahan baku dan bahan modal harus impor. Sementara barang mewah seperti supercar hanya sebagian kecil.

“Tetapi dengan imbauan Pak Wapres ini di media-media, saya khawatir malah akan menimbulkan masalah baru, yaitu ‘kecemburuan sosial. Digoreng kanan-kiri sama lawan politis jadi ujung-ujungnya masalah ekonomi hancur/dolar naik karena ulah golongan kaya, akhirnya konflik horizontal. Seolah olah yang salah akibat dolar adalah pemilik supercar atau barang mewah. Padahal yang trigger adalah bahan baku dan bahan modal yang semua impor. Jadi current account defisit itu bukan karena barang luxury karena impactnya hanya 0,03%,” ucap Rudy. (detikcom)