Kemarau Diprediksi Lebih Panjang, Pemerintah Diminta Antisipasi Stok dan Harga Beras

JAKARTA – Galuh Octania , peneliti dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) menyatakan, tahun ini diprediksi musim kemarau lebih panjang. Kondisi ini akan berpengaruh terhadap produksi dan juga harga beras.

Karena itu Galuh minta pemerintah sesegeranya mengangtisipasi keadaan ini, terutama mengantisipasi kenaikan harga beras, karena ini akan berpengaruh terhadap kehidupan masyarakat.

“Kemungkinan akan naiknya harga beras seharusnya sudah diantisipasi oleh pemerintah,” kata Galuh Octania dalam siaran persnya, Rabu (4/9/2019).

Menurut Galuh, musim kemarau yang sudah berlangsung sejak bulan April 2019 lalu diprediksi akan tetap berlangsung dalam waktu yang lama sehingga akan mempengaruhi produksi beras di Tanah Air.

Tentu saja kondisi ini akan menyebabkan berkurangnya luas lahan tanam padi yang pada akhirnya akan menurunkan jumlah produksi beras, sehingga mempengaruhi harga karena tidak seimbangnya antara permintaan dan pasokan.

“Selain itu kekeringan juga berpotensi menimbulkan dampak pada permintaan beras dikarenakan pada musim kemarau, petani berisiko untuk gagal panen,” kata Galuh

Bahkan kemungkinan tidak sedikit juga petani yang memilih untuk tidak menanam padi. Hal ini akan memengaruhi hasil penyerapan beras yang dilakukan Bulog.***

Share