Laba Bank BCA Tembus Rp20,9 T

SALISMA.COM-Dua bank raksasa di Tanah Air, yakni PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), saling bersaing dalam menghimpun laba. Kedua bank tersebut saling berkejar-kejaran dalam menghimpun laba.

Sempat unggul dalam dua kuartal tahun ini, BMRI harus mengalah dengan BBCA pada kuartal III/2019. Bank Mandiri mencetak laba Rp20,3 triliun atau naik 11,9% secara tahunan (year-on-year/yoy). Namun, BCA unggul tipis menjadi Rp20,9 triliun per September 2019 ini atau naik 13% yoy PT Bank Central Asia Tbk. membukukan kinerja yang solid menutup kuartal III/2019, tercermin dari laba bersih meningkat 13% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp20,9 triliun.

PT Bank Central Asia Tbk. membukukan kinerja yang solid menutup kuartal III/2019, tercermin dari laba bersih meningkat 13% secara tahunan (year-on-year/yoy) menjadi Rp20,9 triliun. Presiden Direktur BCA Jahja Setiaatmadja mengatakan pencapaian tersebut didukung oleh pencapaian kinerja operasional yang solid. Sejalan dengan pertumbuhan kredit BCA, pendapatan bunga bersih meningkat 12,2% yoy menjadi Rp37,4 triliun.

Sementara itu, pendapatan operasional lainnya naik 19,3% yoy menjadi Rp15 triliun, didorong oleh peningkatan provisi dan komisi yang meningkat 16,3% yoy, serta pendapatan transaksi perdagangan.

“BCA mencatat pertumbuhan kredit di berbagai segmen, serta membukukan peningkatan dana CASA [current account saving account]. Kepercayaan nasabah pada layanan keuangan BCA telah mendukung pencapaian kinerja bisnis BCA yang berkelanjutan,” kata Jahja, Senin (28/10/2019).

Pada saat yang sama, penyaluran kredit perseroan tercatat meningkat 10,9% yoy pada kuartal III/2019, sedangkan pembiayaan syariah meningkat 5,9% yoy menjadi Rp5 triliun.Perseroan pun mampu mencatatkan pertumbuhan himpunan dana masyarakat dua digit, yakni sebesar 10,4% yoy menjadi Rp683,1 triliun. Pertumbuhan positif dana pihak ketiga (DPK) dikontribusi oleh pertumbuhan deposito yang tercatat meningkat 19,7% yoy menjadi Rp169,2 triliun.

Sementara itu, porsi terbesar masih dikontribusikan oleh dana murah sebesar 75,2%. CASA tercatat tumbuh 7,6% yoy menjadi Rp513,9 triliun ditopang oleh tingginya pertumbuhan jumlah transaksi, khususnya pada e-channels.

Di sisi lain, Jahja menuturkan, BCA terus mempertahankan rasio keuangan yang solid. Rasio kecukupan modal (capital adequecy ratio/CAR) dan rasio kredit terhadap dana pihak ketiga (loan to deposit ratio/LDR) tercatat pada level yang sehat, masing-masingnya tercatat sebesar 23,8% dan 80,6%, serta rasio pengembalian terhadap aset (ROA) tercatat sebesar 4,0%.

“Fokus dalam menjaga posisi likuiditas dan permodalan yang solid serta kualitas kredit yang sehat akan menopang kinerja bisnis BCA secara berkelanjutan. BCA tetap mengembangkan bisnis secara hati-hati, dengan mencermati kondisi lingkungan bisnis namun mengoptimalkan peluang- peluang yang ada,” ujar Jahja.

editor Roy

Share