oleh

Inilah Resiko Galau Ditinggal Teman Nikah

-Lifestyle-136 views

SALISMA.COM – Kegalauan yang dialami seseorang sangat mengetahui temannya menikah bisa terjadi pada siapa saja, khususnya pada wanita. Bentuk kegalauan tersebut bermacam-macam, ada yang memilih untuk mengurung diri di kamar, menjauh dari pergaulan, atau bahkan menangis meratapi nasib karena tidak kunjung mendapatkan pendamping.

Hal tersebut memang wajar saja dilakukan sebagai bentuk pelampiasan terhadap amarah yang berkecamuk di dalam diri. Tetapi sebaiknya, rasa galau tersebut segera diredam karena galau yang berkepanjangan diprediksi mampu menimbulkan depresi.

Diungkapkan psikolog Irma Gustiana, depresi bisa saja terjadi apabila kegalauan berlangsung lama dan mempengaruhi produktivitasnya sehari-hari. Misalnya, sulit tidur atau selalu ingin tidur sehingga malas melakukan aktivitasnya.

“Galau juga membuat penampilan kacau, nggak mau makan atau makan berlebihan. Itu semua dilakukan semata-mata sebagai kompensasi dari rasa gelisah atau menangis berlebihan” ujar Irma¬†dikutip dari Detik.

Senada dengan Irma, psikolog Kasandra Putranto depresi dari rasa galau tersebut bisa saja muncul akibat cara berpikir dari masing-masing individu. Jika pikiran terbebani dengan hal-hal negatif, otomatis depresi tersebut perlahan akan muncul.

“Kalau dirinya berpikir negatif, misalnya ‘aduh aku nggak punya pacar, pasti karena aku kurang menarik’ atau ‘nggak ada yang mau sama aku’, akhirnya apa yang kita pikirkan dan rasakan itu nanti terjadi. Padahal kalalu kita berpikir positif, bukan hal yang mustahil kalau kita bisa dapat jodoh,” papar Kasandra ketika berbincang dengan Wolipop, Selasa, (6/10/2015).

Apabila depresi sudah semakin akut dan mengganggu fungsi kehidupan sehari-hari, kedua nara sumber ini menganjurkan untuk berkonsultasi dengan psikolog atau orang yang profesional dibidangnya. Kasandra menambahkan, kondisi seperti ini perlu dibimbing dan diterapi agar depresi bisa dihilangkan.

“Jika sudah sampai menganggu fungsi kehidupan, artinyaselalu kepikiran, makan tidur saja sulit. Itu harus ada bantuan dari psikolog. Nanti akan diterapi tergantung masalahnya. Dianalisa dulu seperti apa, baru diterapi sesuai kebutuhannya,” tandas psikolog yang hobi travelling itu.