oleh

Perang di Aleppo Sengit, Pemberontak Gempur Markas Pemerintah

-Dunia-6 views

SALISMA.COM (SC), JAKARTA – Pertempuran berlangsung semakin sengit di berbagai daerah di kota Aleppo, Suriah, ketika kelompok pemberontak menggempur dua markas pasukan pemerintah di wilayah barat laut dan selatan kota itu selama akhir pekan.

Kelompok pemerhati perang Suriah, Syrian Observatory for Human Rights melaporkan bahwa pertempuran di Aleppo antara pemberontak yang menguasai wilayah timur dan pasukan rezim Presiden Bashar al-Assad yang mengendalikan wilayah barat semakin meningkat dalam beberapa pekan terakhir. Ratusan warga tewas akibat pertempuran ini, akses listrik, air dan kebutuhan harian lainnya juga terputus.

Observatory, yang berbasis di Inggris, melaporkan bahwa sejumlah kelompok pemberontak meledakkan bom mobil dan meluncurkan rentetan tembakan ke distrik Jamiat al-Zahraa, wilayah yang terdapat pangkalan militer dan daerah perumahan, pada Minggu (14/8).

Reuters melaporkan bahwa kelompok pemberontak juga menggempur markas militer di sebuah bekas pabrik semen di barat daya kota itu, berdekatan dengan jalur menuju wilayah yang dikuasai pemberontak di sebelah timur. Serangan ini memecahkan pengepungan pasukan pemerintah.

Sebelumnya di hari yang sama, tentara Suriah dan sekutunya merebut beberapa bangunan dalam proyek pembangunan 1.070 rumah di barat daya Aleppo. Wilayah ini juga berdekatan dengan jalur masuk wilayah yang dikuasai pemberontak.

Pertempuran terlihat terus berlanjut meski sejak Kamis (11/8) Rusia telah memberlakukan gencatan senjata selama tiga jam per hari, dari pukul 10.00 hingga 13.00. Gencatan senjata ini bertujuan agar pengiriman bantuan kemanusiaan dapat memasuki kota yang terkepung itu.

PBB menilai, agar bantuan kemanusiaan dapat menjangkau daerah yang dikepung pemerintah, diperlukan gencatan senjata setidaknya selama 48 jam.

Kota Aleppo terbagi menjadi wilayah yang dikuasai pemberontak dan daerah yang dikendalikan pemerintah. Bagian timur kota ini dikuasai pemberontak, sehingga sekitar 250 ribu penduduknya hidup di bawah pengepungan pasukan rezim Assad, setelah Juli lalu pasukan pemerintah memotong Castello Road, rute pasokan utama ke kota itu.

Aleppo menjadi salah satu benteng pertahanan kelompok pemberontakan untuk memerangi pasukan yang setia kpeada Assad, yang didukung oleh Iran, serangan udara dari Rusia dan militan Hizbullah dari Libanon.

Belakangan ini, kelompok pemberontak Jabhat Fateh al-Sham, yang sebelumnya dikenal dengan nama Front al-Nusra berhasil mengusai sejumlah wilayah di Aleppo. Kelompok ini berganti nama setelah memutuskan afiliasinya dengan kelompok militan Al-Qaidah bulan lalu.

Sebagai upaya menghentikan pertempuran, sebanyak 15 dari 35 dokter terakhir di Aleppo menulis surat kepada Presiden Amerika Serikat Barack Obama dengan permohonan yang mendesak agar ia melakukan intervensi dengan menghentikan serangan udara yang menargetkan berbagai rumah sakit di kota yang terkepung oleh angkatan udara Suriah dan Rusia itu.

 

(CNN INDONESIA.com)