oleh

Pertamina Jadikan Arab Saudi Target Baru Penjualan Avtur

-News-7 views

SALISMA.COM (SC), JAKARTA – PT Pertamina (Persero) berencana melebarkan sayap bisnis penjualan avtur yang diproduksinya sampai ke Arab Saudi. Peluang tersebut terbuka lebar, setelah salah satu perusahaan minyak dan gas bumi (migas) Arab Saudi mengundang Pertamina sebagai mitra bisnis di sana.

Pelaksana Tugas (Plt) Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Luhut Binsar Pandjaitan menjelaskan, perseroan akan melakukan kunjungan ke Arab Saudi pekan depan untuk melakukan finalisasi kerjasama.

Sampai saat ini, tawaran berbisnis avtur baru sebatas dilakukan di Bandara Internasional King Fahd, yang terletak di kota Dammam.

“Mereka yang meminta Pertamina untuk berbisnis di situ. Pertamina tentu punya pengalaman, mungkin mereka ingin supaya jangan hanya satu penyedia avtur supaya service bandaranya lebih baik,” jelas Luhut di Gedung Kementerian ESDM, Rabu (24/8).

Melengkapi ucapan Luhut, Direktur Pemasaran dan Niaga Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, prospek bisnis avtur di Arab Saudi terbilang menjanjikan. Pasalnya, saat ini banyak sekali maskapai internasional yang melayani penerbangan ibadah Haji serta Umrah.

Untuk merealisasikan hal tersebut, kini Pertamina tengah merampungkan proses pembentukan perusahaan patungan (Joint Venture/JV) dengan badan usaha mitra yang berasal dari Arab Saudi.

Dalam hal ini, Pertamina tidak bermitra dengan Saudi Aramco, melainkan dengan anak usahanya atau perusahaan yang ditunjuk oleh pemerintah Arab Saudi nantinya.

“Kami sudah dalam proses membuat JV company disana karena peraturannya memang begitu. Mayoritas kepemilikannya oleh Pertamina, dan JV-nya nanti dilakukan dengan anak perusahaan Saudi Aramco atau perusahaan lokal yang direkomendasi pemerintah. Saudi Aramco kan tidak main di bisnis ritel avtur ke airline,” ujar Ahmad melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com.

Ia melanjutkan, avtur yang dijual nantinya bersumber dari produksi Saudi Aramco. Menurutnya, tak hanya Pertamina saja yang diperlakukan seperti ini, karena kondisi tersebut sudah jadi peraturan di negara Timur Tengah itu.

“Semua pemain, termasuk Shell, juga sama. Harus beli avtur dari Terminal Aramco,” tambahnya.

Kendati demikian, ia tak menyebut target penjualan avtur di Arab Saudi jika proyek ini terealisasi.

“Ini masih proses. Realisasinya kalau JV sudah selesai, kami masih harus dapatkan izin dari otoritas migas dan bandara. Sehingga, ini harus selesai terlebih dulu,” pungkas Ahmad.

 

(CNN INDONESIA.com)