oleh

Menegangkan, Perburuan Induk Buaya Berakhir Dramatis

-News-34 views

SALISMA.COM (SC), SORONG – Ketakutan warga Kampung Gisim Darat, Distrik Kalamono, Sorong, Papua Barat untuk sementara hilang. Satu dari enam makhluk yang meneror mereka selama ini berhasil dibasmi.

Ya, tamat sudah riwayat seekor buaya berukuran panjang empat meter yang sedang menanti mangsa di Kali Klasafet, tepat di samping base camp karyawan Sawiat Endrison Inti Persada. Dua bulan menunggu mangsa, buaya berukuran besar itu akhirnya tewas di tangan warga Kampung Gisim Darat, Kamis (1/9) pukul 01.00 WIT.

Warga yang melihat adanya buaya berukuran raksasa memutuskan untuk menangkapnya beramai-ramai. Selanjutnya membunuh buaya yang sedang menunggu mangsa di pinggir kali, yang saat itu airnya sedang surut. Keputusan itu dilakukan, sebelum adanya korban nyawa akibat diterkam buaya.

Warga dibantu karyawan Sawiat Endrison Inti Persada menangkap induk buaya yang sempat menggegerkan warga sejak dua bulan terakhir. Sebelum ditangkap, di lokasi itu sempat berembus kabar jika ada enam ekor buaya yang terlihat oleh warga di kali Klasafet. Satu ekor yang merupakan induk berukuran besar, sedangkan lima lainnya berukuran kecil.

Salah satu karyawan Sawiat Endrison Inti Persada  Awaludin mengatakan, buaya raksasa itu pertama kali dilihat warga usai banjir yang menerjang wilayah Klamono. Saat air surut, enam ekor buaya terlihat menepi dan berkumpul di pinggir kali.

Warga yang sedang berada di lokasi terkejut melihat adanya buaya yang sedang mengincar mangsa itu. kabar itu pun menyebar dengan cepat dan didengar oleh warga lainnya. Warga sempat ketakutan untuk mendekati kali. Terutama melarang anak-anak bermain di kali.

Ia menduga, buaya berasal dari muara yang tak jauh dari lokasi tersebut. Saat banjir menerjang, buaya hanyut terbawa arus sungai yang deras. “Jadi pas banjir surut di kali sudah ada buaya sekitar enam ekor, yang lima ekor ukuran kecil tapi yang satu itu besar sekali,” kata Awal pada Radar Sorong, Kamis (1/9).

Ketakutan warga cukup beralasan, meski tidak setiap saat buaya berada di pinggir kali mencari mangsa. Namun, saat air surut buaya sering terlihat menepi, memperlihatkan mulut beringasnya dengan gigi tajam yang siap mengunyah mangsa. Sering memperlihatkan diri, buaya membuat warga dan para karyawan ketakutan.

Semakin meresahkan, akhirnya warga dan para karyawan menggelar pertemuan pada Kamis (1/9) malam. Dalam perbincangan itu menyepakati untuk menangkap buaya saat air sedang surut.

Pukul 01.00 WIT belasan karyawan yang dipimpin oleh security perusahaan Yusuf S, memberanikan diri untuk menangkap sang predator berbahaya itu. Berbekal tambang, parang, dan tombak para karyawan mulai menyusuri kali.

Perburuan buaya cukup menegangkan, sebab buaya bisa saja bersembunyi dan menerkam mangsa tanpa disadari. Saat memergoki buaya yang sedang berada di pinggir kali. Rombongan pun menyusun strategi. Kerja sama belasan orang itu akhirnya menggerebek buaya yang menanti mangsa.

Badan, ekor, dan mulutnya lalu diikat kuat, kemudian ditebas parang hingga tak berkutik. Para karyawan lalu membopong buaya seberat 600 kg, dengan panjang empat meter, dan lebar 500 cm tersebut ke darat. “Sebenarnya kasihan, tapi mau bagaimana. Dari pada ada korban, ya lebih baik dibunuh saja,” kata Awal.

Pukul 08.00 WIT, warga sekitar yang mendengar penangkapan buaya langsung mendatangi lokasi. Tak sedikit yang merinding melihat sang predator yang sudah tak berkutik. Meski demikian, kebringasan masih jelas terlihat dari sang predator. Kuku panjang yang meruncing, ekor menjulang yang bergerigi, serta gigi yang panjang dan tajam.  “Pukul 11.00 WIT buaya langsung dibawa ke Kota, tidak tahu ya mungkin dijual sama yang butuh. Karena buat apa juga di sini kan,”imbuhnya.

Dia mengatakan, selain buaya jumbo tersebut masih ada lima ekor lainnya di Kali Klasefet. Namun, karena ukurannya masih kecil, panjang tubuh berkisar satu meter para karyawan memutuskan untuk membiarkan mereka tetap hidup.

 

(JPNN.com)