oleh

Jakarta Utara, Target Lumbung Suara Para Penantang Ahok

SALISMA.COM (SC), JAKARTA – Panas dan gersang. Itulah potret Jakarta Utara, salah satu dari enam kota administratif di DKI Jakarta. Di wilayah ini, potret ketimpangan ekonomi warga terlihat jelas. Sebagian hidup mewah, sebagian melarat.

Di daerah ini pula, gemerlap hiburan malam pernah begitu hidup. Siapa tak kenal kawasan prostitusi Kramat Tunggak di Koja –lokalisasi terbesar di Asia Tenggara yang kini telah tutup dan berganti dengan bangunan megah Jakarta Islamic Centre.

Siapa juga tak tahu distrik merah Kalijodo di Penjaringan –sarang prostitusi kelas bawah yang kini telah diratakan dengan tanah oleh Gubernur Basuki Tjahaja Purnama alias Ahok.

Penggusuran bukan hanya terjadi di Kalijodo, tapi berbagai lokasi lain di Jakarta Utara seperti Luar Batang dan Pasar Ikan.

Aksi penggusuran –yang notabene dilakukan oleh calon gubernur petahana– tak pelak membuat Jakarta Utara menjadi incaran strategis para penantangnya, Agus Harimurti Yudhoyono-Sylviana Murni dan Anies Baswedan-Sandiaga Uno.

Kedua pasangan calon gubernur dan wakil gubernur DKI Jakarta itu akan habis-habisan menarget suara para penghuni Jakarta Utara, termasuk mereka yang menjadi korban penggusuran pada periode kepemimpinan Ahok.

Jakarta Utara berpotensi menjadi lumbung suara para penantang Ahok.

Agus-Sylvi terlihat memberikan perhatian serius pada wilayah itu. Mereka rutin berkunjung ke Jakarta Utara. Agus, berdasarkan catatan CNNIndonesia.com, sudah tiga kali menyambangi Jakarta Utara.

Pada ketiga kunjungan itu, Agus pergi ke Koja, Muara Angke, Penjaringan, dan Luar Batang. Pada lawatan ketiganya, Agus bahkan melakukan stage diving di Stadion Tugu, Koja. Ia melemparkan diri dari panggung ke arah para relawan dan simpatisannya.

Agus disambut meriah saat mendatangi Rusun Sindang di Koja, kampung nelayan di Angke, dan wilayah gusuran di Luar Batang. Bunyi yel-yel dukungan terhadap Agus menggema di sepanjang perjalanannya menyapa warga.

Jakarta Utara, Target Lumbung Suara Para Penantang Ahok
Agus Yudhoyono dan istrinya, Annisa Pohan, beserta adiknya Ibas Yudhoyono dan sang istri, Aliya Rajasa. (Dok. Tim Sukses AHY)

Calon gubernur nomor urut tiga, Anies, juga bermanuver dengan menandatangani kontrak politik dengan warga Tanah Merah, Rawa Badak. Cara ini mirip dengan yang pernah dilakukan Joko Widodo saat ia mencalonkan diri sebagai Gubernur DKI Jakarta di bawah bendera PDIP dan Gerindra pada 2012.

Anies mengatakan, kontrak politik adalah janji dan komitmennya kepada warga. Ia menganggap, calon yang tak meneken kontrak politik sama saja dengan tak bersedia melakukan apa-apa.

Dari tiga calon yang bertarung di Pilkada DKI Jakarta, hanya Anies-Sandi yang menandatangani kontrak politik. Sementara Agus-Sylvi mengatakan enggan mengumbar janji, dan Ahok-Djarot mengklaim visi misi mereka satu level di atas kontrak politik.

Secara kuantitatif, jumlah pemilih tetap yang telah terdata di Jakarta Utara hanya 1.165.078 orang, kalah dari Jakarta Timur, Jakarta Barat, dan Jakarta Selatan.

Meski demikian, jumlah itu bisa menjadi lumbung suara signifikan jika digarap maksimal oleh para penantang Ahok.

Keriuhan akan dimulai pada Jumat pekan ini, 28 Oktober, saat masa kampanye resmi dibuka.

 

(CNN INDONESIA.com)