oleh

Di Balik Tugas Pemadaman Karhutla, Ardinata Tarigan Menyimpan Rindu kepada Orang Tua

SALISMA.COM – Bagi Ardinata Tarigan, keberhasilan mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bukan sekadar menyelesaikan pekerjaan. Ada keinginan sederhana yang selalu menyertainya setelah menjalani penugasan berhari-hari, yakni kembali beristirahat dan bertemu keluarga di kampung halaman.

Ardinata telah merantau ke Riau untuk bekerja sejak 2013. Ia memulai karier sebagai anggota Regu Pemadam Kebakaran (RPK) PT Arara Abadi di Distrik Duri 3. Lima tahun kemudian, ia mengikuti seleksi dan pelatihan hingga terpilih menjadi anggota Tim Reaksi Cepat (TRC). Saat ini, ia bertugas di TRC Perawang.

Pekerjaannya menuntut kesiapan menghadapi berbagai situasi di lapangan. Saat memadamkan karhutla, kondisi yang awalnya memungkinkan dapat berubah dalam waktu singkat. Angin kencang bisa mengarahkan asap ke posisi petugas, sementara api dapat melompat ke area lain dan memperluas wilayah kebakaran.

“Kadang angin tiba-tiba kencang, kadang api melompat. Itu yang membuat tim harus mundur dan menunggu momen yang tepat untuk melakukan pemadaman,” tutur Ardinata.

Dalam kondisi tersebut, ia bersama tim harus menghentikan pekerjaan sementara dan menunggu situasi lebih aman. Pemadaman terkadang baru dapat dilanjutkan pada malam hari ketika angin cenderung lebih tenang. Kesabaran dan kemampuan membaca kondisi lapangan menjadi bagian penting dari pekerjaan mereka.

Ardinata mengaku penugasan yang berlangsung berhari-hari membuat tubuh lelah dan keinginan untuk pulang semakin besar. Meski demikian, rasa lelah itu dapat berkurang ketika tim berhasil mengendalikan kebakaran. Baginya, pekerjaan yang selesai berarti kesempatan untuk beristirahat dan kembali berkumpul dengan keluarga semakin dekat.

Kerinduan itu terasa karena orang tua dan keluarganya tinggal di kampung halaman di daerah Medan. Ardinata masih lajang dan sudah terbiasa menjalani kehidupan jauh dari keluarga. Namun, jarak tidak membuat hubungan mereka terputus.

Ketika berada di lokasi dengan jaringan telekomunikasi yang memadai, Ardinata berusaha menghubungi keluarga untuk memberi kabar. Komunikasi melalui telepon menjadi cara sederhana untuk menjaga kedekatan dengan orang tua meski tidak dapat bertemu setiap hari.

Namun, keterbatasan sinyal pernah membuat komunikasi tersebut terputus selama tiga minggu ketika Ardinata menjalankan tugas bantuan pemadaman karhutla di Jambi. Selama periode itu, ibunya, Sontina br Munthe (57), tidak dapat menghubunginya dan akhirnya mencari informasi melalui rekan kerja Ardinata.

Sontina baru mengetahui keberadaan putranya setelah berhasil berbicara dengan salah seorang teman kerjanya. Ia pun memahami bahwa Ardinata sedang bertugas di wilayah yang memiliki keterbatasan jaringan telekomunikasi.

Bagi Sontina, kabar sederhana dari putranya dapat mengurangi kecemasan. Ia mengetahui bahwa pekerjaan Ardinata mengandung risiko, sehingga sulitnya komunikasi kerap membuatnya memikirkan keselamatan anaknya.

Ardinata sendiri memahami kekhawatiran tersebut. Ia menyadari bahwa keluarga di rumah tidak mengetahui secara langsung situasi yang dihadapinya di lapangan. Karena itu, setiap kali mendapatkan kesempatan dan jaringan memungkinkan, ia berusaha memberikan kabar.

Saat mendapat kesempatan pulang, Ardinata memiliki keinginan sederhana: memeluk orang tuanya dan menikmati masakan rumah. Setelah menghadapi panas, asap, dan kelelahan selama penugasan, waktu bersama keluarga menjadi hal yang sangat berarti.

Di tengah tanggung jawab sebagai petugas pemadam karhutla, keluarga tetap menjadi tempat yang dirindukan Ardinata. Ada orang tua yang menunggu kepulangannya, berharap setiap tugas dapat diselesaikan dengan baik dan anaknya kembali dalam keadaan selamat.***