oleh

Abrasi Pantai di Meranti Mengkhawatirkan, Warga Diajak Tanam Mangrove

SALISMA.COM (SC), PEKANBARU – Setiap tahun sepanjang 15 hingga 30 meter bibir pantai di Kepulauan Meranti mengalami abrasi atau pengikisan. Hal ini menjadi ancaman serius bagi daerah pesisir jika tidak segera diantisipasi.

“Jadi, kami meminta masyarakat maupun kepala desa untuk menggalakkan penaman mangrove. Butuh kesadaran dan komitmen besar karena begitu besar manfaatnya bagi kelestarian ekosistem kita,” kata Kepala Dinas Perikanan Kabupaten Kepulauan Meranti Alizar di Pekanbaru, Kamis (25/05/2017).

Alizar menegaskan bahwa abrasi adalah pengikisan pantai oleh air laut. Adapun pemicunya, antara lain, berkurangnya ekosistem mangrove (bakau) di kawasan pesisir pantai. Tumbuhan pokok di pantai ini menjadi pohon pelindung dari ancaman abrasi.

Beberapa waktu lalu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Perikanan dan Kelautan Provinsi Riau Nafilson di Kecamatan Ransang Pesisir, Kepulauan Meranti, melakukan penanaman 14.800 bibit mangrove.

“Kita melihat kondisi di lapangan, ancaman abrasi sudah sangat berdampak. Harus cepat ditangani. Kalau tidak, lambat laun selat panjang bisa tenggelam,” kata Nafilson dalam sosialisasi dan pelatihan penangkaran bibit pohon pelindung (mangrove) di Desa Kedabu Rapat.

Pemulihan hutan mangrove menjadi langkah yang ditempuh pihaknya agar abrasi pantai tidak meluas. “Mangrove banyak sekali manfaatnya. Selain berfungsi untuk menahan ombak, pohon mangrove juga menjadi tempat hidupnya berbagai biota laut,” katanya. (*)