Malang, Tubuh Luci Melepuh Usai Minum Obat Dokter dan Alternatif Secara Bersamaan

SALISMA.COM (SC) – Kehidupan malang benar-benar tengah dirasakan oleh keluarga Hasan, warga Jalan Flamboyan, RT 01/06 Kelurahan Tangkerang Labuai Selatan, Pekanbaru.

Dengan 9 anggota keluarganya, Hassan tinggal di sebuah gubuk reot nan sempit dan sangat jauh dari kata layak. Bersebelahan dengan kandang ayam, kandang bebek, dan anjing, serta kondisi dapur yang sangat kumuh tidak membuat mereka jenuh meski sudah 10 tahun berdiam disana.

Tetapi, kisah pilu Hasan tidak tentang kondisi rumah, melainkan isterinya. Saat ini isterinya hanya dapat terbaring lemah di atas kasur yang dialasi daun pisang dengan luka di sekujur tubuh seperti terbakar. Bahkan kelopak matanya pun turut mengelupas. Melihat sang isteri sulit bergerak dan selalu merasa kedinginan, memberikan rasa pedih di hati Hasan.

Kondisi mengenaskan isterinya tersebut bermula pada 7 bulan yang lalu. Isteri Hassan yang bernama Luci melahirkan dengan operasi Caesar.

Seperti lazimnya, dokter memberi obat untuk penyembuhan bekas operasi. Tetapi 2 bulan kemudian, Luci mengalami kecelakaan lalu lintas yang menyebabkan dirinya mengalami patah tulang di bagian lengan. Karena ketiadaan biaya, Hasan hanya membawa sang istri ke pengobatan alternatif (patah tulang) yang kemudian diberikan obat untuk penyembuhan tulang yang patah.

Disebabkan rasa sakit yang tak tertahankan dan keinginan untuk segera sembuh sebab ada bayinya yang baru berumur 2 bulan yang juga harus diurus, Luci meminum obat alternatif dan obat dari dokter secara bersamaan.

Namun, setelah 10 hari mengonsumsi obat-obatan tersebut, efek yang didapat bukan membaik melainkan semakin parah.

Saluran pernapasannya terbakar dan ginjal rusak akibat tidak mampu lagi menetralisir obat-obatan tersebut. Sekujur tubuh Luci dipenuhi luka bakar dan kaku. Tergesek sedikit saja pun akan merobek kulitnya. Tidak jarang kulit Luci mengeluarkan nanah dan melepuh seperti terkena air panas.

Sudah empat kali Hasan membawa istrinya ke rumah sakit, bermodalkan surat BPJS dan KIS. Namun, pengobatan yang dilakukan nyatanya tidak membuahkan hasil. Sejak 5 bulan yang lalu, Luci masih tetap merasakan sakitnya hingga saat ini. Akhirnya, mereka pasrah dan melakukan pengobatan seadanya dirumah.

Hasan sendiri adalah seorang buruh yang pendapatannya tidak tetap. Anak pertamanya masih SMP dan harus rela putus sekolah akibat sulitnya perekonomian sejak sang Ibu sakit. Ada pula adiknya yang kini berumur 7 bulan, juga harus ia asuh sebab ibunya tidak lagi dapat mengurusi mereka.

Menurut pengakuan Hasan, belum ada bantuan sama sekali dari desa yang mereka dapatkan. Hanya tetanggalah yang masih memberikan sedikit sumbangsih dan bantuan semampunya. Hasan memang sudah mencoba meminta bantuan ke pemerintahan desa, namun dipersulit dengan mengharuskan adanya surat pindah seluruh keluarga ke tempat tinggal mereka sekarang. Sementara yang dimiliki Hasan hanya surat pindahnya sendiri.

Pihak kecamatan juga memberikan jawaban yang sama. Masih masalah surat pindah yang akhirnya membuat Hasan pasrah. Luci pun kini menolak jika diajak berobat oleh keluarga, dengan alasan merasa kasihan dengan suaminya yang bersusah payah mengais rezeki, sementara masih ada anggota keluarga yang harus dihidupi.

“Keinginan saya tidak banyak. Saya hanya ingin istri saya segera sembuh. Saya tahu saya masih kuat bekerja, dan saya malu meminta-minta, tetapi perekonomian kami benar-benar sulit. Bahkan untuk makan saja seadanya apalagi berobat. Saya tidak berharap mereka mau membantu, saya hanya berharap masih ada saudara-saudara saya yang masih memiliki hati nurani,” ungkap Hasan dengan mata berkaca-kaca, Kamis (10/5/2018).

Bagi anda yang ingin membantu meringankan beban saudara kita Hasan dan Luci, dapat memberikan bantuan atau donasi langsung. Bantuan / donasi bisa diantar langsung kepada keluarga Hasan, atau mengirimkan ke nomor rekening BRI 3362-01-027583-53-1 atas nama Annisa, yang merupakan kerabat Hasan. Atau bisa menghubungi Hasan: 0823-8942-4939, Annisa: 0812-7717-1143, Ardian: 0853-2521-6171. (*/hj)

 

Laporan Khusus, Khoirun Nisa, Mahasiswi semester 2 Jurusan Ilmu Komunikasi Fisip UR