SALISMA.COM – Sedikitnya 165 orang ditemukan tewas dan ratusan lainnya masih hilang setelah banjir bandang Nepal dan longsor besar menerjang kawasan perbatasan Nepal-Tibet. Tim ilmuwan internasional menduga bongkahan besar gletser yang terlepas dari gunung dan jatuh ke lembah menjadi bagian penting dari rangkaian bencana tersebut, meski penyebab pastinya masih diteliti.
Dugaan awal sempat mengarah pada gempa bumi. Menteri Luar Negeri Nepal Shisir Khanal mengatakan gempa dilaporkan terjadi di perbatasan Tibet-Nepal sesaat sebelum tanah longsor, sehingga muncul kemungkinan getaran tersebut memicu bencana.
US Geological Survey (USGS) pada awalnya juga mencatat gempa berkekuatan magnitudo 4,4 di sepanjang perbatasan Nepal-China pada pukul 08.37 waktu setempat. Hampir bersamaan dengan catatan tersebut, material berupa es dan batu meluncur dengan deras dari lereng gunung menuju Sungai Lhende Khola.
Sungai Lhende Khola merupakan anak Sungai Bhote Koshi yang mengalir dari China menuju Nepal dan melewati kawasan dengan ngarai-ngarai dalam. Namun, analisis selanjutnya mengubah dugaan awal mengenai gempa yang disebut terjadi sebelum bencana.
USGS kemudian mengklarifikasi bahwa getaran yang terekam bukan berasal dari gempa bumi. Sinyal seismik tersebut justru diduga dihasilkan oleh tanah longsor yang sangat besar, dengan kekuatan getaran yang disebut setara gempa magnitudo 5,2.
Tim ilmuwan internasional memperkirakan bongkahan besar gletser terlepas dari kawasan pegunungan dan kemudian jatuh ke lembah. Dengan temuan sementara tersebut, longsor diduga menghasilkan getaran menyerupai gempa, bukan sebaliknya. Para peneliti memperkirakan dibutuhkan waktu berminggu-minggu untuk mengetahui penyebab pasti peristiwa tersebut.
Sementara itu, sumber aliran air dalam jumlah besar yang memicu banjir bandang Nepal masih menjadi objek penyelidikan. Para ilmuwan memeriksa citra satelit untuk mencari titik longsor, kemungkinan danau glasial yang mendadak mengosongkan airnya, lokasi penyumbatan sungai, serta data curah hujan terbaru.
Nepal menghadapi kerentanan terhadap bencana terkait iklim di tengah pemanasan global. Pencairan hamparan es dapat membuat lereng pegunungan berbatu semakin tidak stabil. Gletser yang mencair juga dapat membentuk danau di kawasan tinggi, sementara pencairan pada musim panas berpotensi membuat air mengalir menuju kawasan hilir.
Perubahan iklim juga dikaitkan dengan peningkatan potensi curah hujan ekstrem. Kendati berbagai faktor tersebut tengah dipelajari, para ilmuwan belum menetapkan secara pasti faktor yang menyebabkan aliran banjir dalam jumlah besar menerjang wilayah Nepal dan Tibet.
Di tengah penyelidikan penyebab bencana, operasi pencarian korban terus berlangsung. Otoritas Nepal telah menemukan 165 korban meninggal, sedangkan ratusan orang lainnya masih dinyatakan hilang. Perdana Menteri Nepal Balendra Shah menyatakan negara akan mengerahkan sumber daya yang tersedia untuk mendampingi masyarakat yang terdampak bencana.

