oleh

Hotspot Karhutla Terdeteksi di 6 Provinsi, OMC Dioptimalkan

Hotspot karhutla di Indonesia masih terpantau di enam provinsi prioritas, yakni Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, Sumatera Selatan, Riau, dan Jambi. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) telah beberapa kali menjalankan Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) di wilayah rawan untuk membantu mengoptimalkan penanganan kebakaran.

Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton Suar Pelita Panjaitan mengatakan, Kalimantan Tengah menjadi wilayah dengan hotspot paling banyak. Setelah itu terdapat Kalimantan Barat, Sumatera Selatan, dan Kalimantan Selatan.

Meski demikian, keberadaan hotspot tidak serta-merta menunjukkan lokasi tersebut sedang mengalami kebakaran. Menurut Berton, tim di lapangan terus melakukan verifikasi untuk memastikan titik panas yang terpantau benar-benar merupakan fire spot atau titik kebakaran. Jika api ditemukan, petugas langsung melakukan penanganan agar kebakaran tidak berkembang lebih luas.

Penanganan karhutla menghadapi tantangan karena karakteristik lokasi yang berbeda-beda. Kondisi lahan gambut menjadi salah satu kendala karena proses pemadaman tidak selalu berakhir setelah api berhasil dipadamkan. Petugas masih perlu melakukan pendinginan, sementara sebagian lokasi kebakaran juga sulit dijangkau.

“Kalau masih ada api, tentu berarti pekerjaan kita belum selesai. Tetapi bukan berarti tidak ditangani,” kata Berton, Sabtu (29/8/2026). Ia menegaskan bahwa dinamika kondisi lapangan, terutama pada lahan gambut, menjadi bagian dari tantangan penanganan kebakaran.

Di sisi lain, Plt Deputi Meteorologi BMKG Andri Ramadhani mengatakan OMC telah dilaksanakan beberapa kali di wilayah rawan karhutla. Pelaksanaannya tidak dapat dilakukan setiap saat karena harus menyesuaikan kondisi atmosfer dan ketersediaan awan yang berpotensi menghasilkan hujan.

Andri menjelaskan, modifikasi cuaca bukan teknologi yang dapat menciptakan hujan ketika atmosfer dalam kondisi kering atau tidak tersedia awan. OMC bekerja dengan mengoptimalkan proses pertumbuhan awan dan pembentukan hujan dari sistem awan yang memang sudah tersedia di atmosfer.

Efektivitas OMC bergantung pada sejumlah parameter cuaca, mulai dari ketersediaan dan karakteristik awan, tingkat kelembapan dan labilitas atmosfer, profil suhu hingga proses pengangkatan massa udara. Arah serta kecepatan angin menuju wilayah yang menjadi sasaran operasi juga ikut diperhitungkan.

Untuk menentukan waktu pelaksanaan, BMKG melakukan analisis cuaca dan potensi pertumbuhan awan secara real-time. Pemantauan dilakukan menggunakan data satelit, radar cuaca, pengamatan udara atas serta model prediksi cuaca sebelum jendela peluang OMC ditentukan.

OMC menjadi salah satu unsur dalam penanganan karhutla secara terpadu. Pelaksanaannya berjalan bersama pemadaman melalui jalur darat dan udara serta langkah mitigasi lainnya, sedangkan operasi modifikasi cuaca dilakukan secara situasional ketika kondisi atmosfer dinilai mendukung.