Pasca Tuduhan Diskriminasi, Starbucks Lakukan Program Anti-Rasisme dan Tutup 8.000 Gerai di AS

SALISMA.COM (SC) – Setelah kasus protes dan tuduhan diskriminasi rasial terhadap Starbucks, akibat manajer gerai Starbucks di Philadelphia yang memanggil polisi dan mengakibatkan penangkapan dua pria kulit hitam yang sedang menunggu seorang teman di gerai tersebut,  Starbucks berkomitmen untuk melakukan program pelatihan anti-rasisme.

Gerai kopi yang dikenal karena sikap liberalnya pada isu-isu sosial itu pun menutup 8.000 gerainya untuk memulai program pelatihan anti-rasisme tersebut, pada Selasa (29/5). Hal ini dilakukan untuk mengupayakan minoritas mendapatkan perlakuan yang sama di restoran dan toko.

Penutupan itu sebagai langkah pertama dalam pelatihan 175.000 karyawan tentang toleransi rasial. Sekitar 6.000 gerai Starbucks berlisensi akan tetap buka di lokasi seperti pertokoan dan bandara, dan karyawan tersebut akan dilatih di waktu berikutnya, seperti dilansir tempoco yang dikutip dari Reuters.

Pelatihan anti-bias dimaksudkan untuk membuat peserta mengenali rasisme bawah sadar mereka sendiri dan menghindari diskriminasi yang tidak disengaja.

Pelatihan Starbucks diharapkan bedampak panjang terhadap perilaku karyawannya dan membuka kesadaran bagi perusahaan lain untuk mengatasi rasisme di restoran dan toko, ungkap Heather McGhee, ketua kelompok kebijakan publik Demos.

McGhee mengatakan salah satu kenangannya yang paling awal tentang diskriminasi rasial adalah ketika seorang gadis kulit hitam dikejar dari toko permen oleh seorang manajer toko kulit putih.

McGhee dan Ketua NAACP Hukum Pertahanan dan Dana Pendidikan (NAACP LDF), Sherrilyn Ifill, adalah pihak yang menyarankan Starbucks mengadakan program ini dan bekomunikasi dengan para eksekutif perusahaan, terutama Chief Operating Officer Rosalind Brewer, yang juga seorang Afrika-Amerika.

“Orang-orang lupa bahwa diperlakukan sebagai warga negara penuh dengan martabat di ruang publik di negara ini adalah penting bagi gerakan hak-hak sipil, mulai dari Freedom Riders hingga boikot bus Montgomery, pada tahun 1950-an dan 1960-an,” kata Ifill.

Dalam program pelatihan anti-rasisme ini, karyawan Starbucks akan menonton video yang menampilkan pemimpin perusahaan, artis hip hop Umum dan ahli dari Perception Institute serta dokumenter pendek tentang sejarah rasisme di ruang publik. Para karyawan Starbucks juga akan berpartisipasi dalam diskusi dan sesi pemecahan masalah untuk mengidentifikasi dan menghindari diskriminasi rasial dan rasisme. (*)