Jadi Trend di Pekanbaru, Ini Kata Kerapatan Adat LAM Riau Soal Penggunaan Tanjak

SALISMA.COM (SC) – Tanjak kini tak hanya lagi digunakan oleh orang-orang penting dan berkuasa pada daerah tertentu. Namun, belakangan hiasan kepala ini juga mulai digunakan oleh berbagai kalangan baik tua maupun muda.

Tak sedikit juga tanjak dipakai pada acara-acara tertentu. Tanjak sendiri merupakan warisan berupa benda dari para leluhur bangsa melayu.

”Tanjak secara sederhana adalah hiasan kepala atau sebagai penutup kepala. Cuma di daerah tertentu orang menyebut bermacam-macam ada tanjak, tengkolok, dan destar,” kata Amron, salah seorang pengurus Kerapatan Adat di LAM Riau, kepada Salisma.com, Kamis (27/9/2018).

Dia mengatakan, di LAM Riau sendiri untuk kepala daerah atau petinggi, tanjak yang dipakai biasanya disebut Elang Menyongsong Angin yang bermakna suatu keperkasaan.

Dijelaskan Amron, uniknya dulu warna tanjak diolah dari bahan campuran yang berasal dari alam, seperti kunyit, buah dan pohon terat.

“Untuk tanjak warna putih dipakai oleh ulama. Warna hijau dipakai oleh orang tasauf. Untuk para datuk biasanya warna hitam dan kepala adat biasanya menggunakan tanjak berwarna kuning dan itu pun bertingkat,” imbuhnya.

Dikatakan Amron, saat ini sejumlah acara dibolehkan untuk menggunakan tanjak. Namun tetap harus secara beradab dan mengikuti aturan. Jika ingin pakai tanjak maka harus bisa menempatkan dimana dan kapan baiknya menggunakan penutup kepala itu.

“Melihat kita berpakaian melayu lengkap di tambah tanjak membuat orang hormat sama kita. Dan untuk siapapun Orang harus berpikir dimana semestinya tempat penggunaan tanjak. Ini masalah adab, adab lebih tinggi pada ilmu, orang berilmu tapi tak beradab tak berguna,” sambungnya. (Smg1)

Share