Hati-hati, Berbagi Foto Boarding Pass di Medsos Itu Bahaya

SALISMA.COM (SC) – Media sosial kerap jadi instrumen penting pada masa liburan. Berbagai platform media sosial seperti Instagram, Twitter, Facebook, dan semacamnya kerap menjadi instrumen berbagi momen liburan. Tak terkecuali boarding pass.

Menurut perusahaan siber Kaspersky Lab, membagikan boarding pass ke media sosial adalah langkah buruk. “Contoh membagikan boarding pass di media sosial adalah hal yang sangat sering kita temui bahkan di Indonesia sendiri,” ujar Territory Channel Manager Kaspersky Lab APAC Dony Koesmandarin, dalam keterangannya, Selasa, 1 Januari 2019.

Banyak orang memasang foto di media sosial di bawah pengaturan publik, termasuk boarding pass. Selain dari nama dan tujuan, boarding pass juga mencakup beberapa informasi sensitif, yang jika dilihat sekilas tampaknya tidak bermanfaat bagi siapa pun, kecuali staf bandara.

Informasi pada boarding pass juga termasuk dalam screenshot tiket, konfirmasi pemesanan yang diperoleh melalui aplikasi seluler dan terlebih lagi, e-mail. Apabila pengguna cenderung menggunakan kata sandi yang lemah, siapa saja yang secara diam-diam membaca e-mail tersebut dapat memperoleh akses ke data ini.

“Dalam beberapa kasus, banyak orang-orang yang senang membagikan boarding pass mereka di media sosial sebagai pemberitahuan secara publik dalam merayakan momentum besar,” kata Koesmandarin.

“Ini memang dilakukan dibawah kesadaran pengguna, yang awalnya mungkin hanya berniat untuk menunjukkan kepada orang bahwa mereka sedang berpergian,” tambahnya.

Lalu adakah data lain yang termasuk dalam boarding pass? Untuk permulaan, bisa seperti informasi mengenai seberapa loyalitas pemesan pada maskapai penerbangan atau kartu frequent flyer. Nomor atau nama pemegang kartu, dalam beberapa kasus, memungkinkan bagi orang asing untuk masuk ke profil pribadi di situs web maskapai untuk melakukan check-in online.

Bagian kedua dari data penting yang tersembunyi pada boarding pass adalah Passenger Name Record (PNR) atau kode reservasi, fungsinya sebagai pengenal unik penumpang dalam sistem reservasi komputer. Ini termasuk data rute dan semua yang bepergian bersama. Jadi, jika perjalanan dilakukan bersama dengan keluarga, pemesan akan berbagi PNR yang sama.

PNR juga termasuk informasi tentang tarif, serta informasi pembayaran (seperti nomor kartu kredit). Dalam beberapa kasus, berikut adalah informasi aktif yang berada di dalam PNR: nomor telepon penumpang, detail akomodasi di negara tujuan, tanggal lahir, dan data paspor. Jika pemesan mempertimbangkan lebih jauh, informasi tersebut adalah data yang sangat berharga.

“Oleh karena itu, hendaknya jika memang masih ingin membagikannya di media sosial akan lebih baik untuk menyamarkan kode barcode, nama, e-mail dan informasi penting lainnya,” tutur Koesmandarin.

Namun tambahnya, lebih baik lagi jika hanya membagikan momen perjalanan saat tiba di tempat tujuan dan merasakan liburan yang nyaman. (Tempo)