Selalu Padat, Jalan Lintas Riau-Sumbar Jadi Perhatian Selama Arus Mudik

PEKANBARU – Jalan Lintas Riau-Sumatra Barat mendapat perhatian khusus selama arus mudik Lebaran Idul Fitri. Jalur ini selalu dipadati pemudik ataupun masyarakat dari Bumi Lancang Kuning untuk menghabiskan libur panjang ke Ranah Minang.

Tak hanya padat, jalur ini juga rawan kecelakaan lalu lintas karena di sejumlah titik ada kerusakan badan jalan. Jalanan sempit, perbukitan dan tikungan tajam juga harus membuat pemudik hati-hati melewatinya.

Kepala Kepolisian Daerah Riau Inspektur Jenderal Widodo Eko Prihastopo sudah memerintahkan Kapolres setempat meningkatkan koordinasi dengan pemerintah daerah di sana. Jalan rusak menjadi fokus untuk segera diperbaiki menjelang arus mudik.

“Kemarin ada juga pembangunan jembatan, sudah diberi masukan, mudah-mudahan dinas terkait bisa menyelesaikannya,” sebut Widodo usai gelar pasukan Operasi Ketupat Muara Takus, Senin (28/5/2019).

Widodo mengaku sudah meninjau jalur lintas ini beberapa waktu lalu. Selain berkoordinasi dengan pemerintah daerah agar segera membenahi jalan, tujuan kunjungan juga untuk menentukan lokasi pembangunan pos pelayanan dan pengamanan.

Selain arah ke Sumatra Barat, jalur lintas yang menghubungkan Kabupaten Rokan Hilir dengan Sumatra Utara juga rawan macet dan serta kecelakaan lalu lintas. Begitu juga dengan jalur lintas timur di Kabupaten Pelalawan.

Jalur rawan kecelakaan di Pelalawan sebagian besar ada di jalan nasional. Beberapa jalur rawan ini terdapat di kilometer 54,5-54, 9 Desa Kiyab dan kilometer 119,5-119, 9 Desa Pesuguhan.

“Namun secara umum Riau itu masuk kategori aman, tapi titik rawan harus diwaspadai,” sebut Widodo.

Sementara untuk jalur rawan kejahatan, Polda Riau akan menempatkan personel Brimob. Tidak ada penembak jitu yang disiagakan di pos pengamanan ataupun pelayanan.

“Riau tidak sama dengan daerah lainnya sehingga tidak diperlukan adanya penembak jitu ataupun sniper,” kata Widodo.

Untuk mengamankan dan melayani pemudik tahun ini, Polda Riau mengerahkan 2.800 lebih personelnya. Polisi juga dibantu oleh TNI dan satuan lainnya seperti dinas perhubungan dan kesehatan.

“Totalnya itu ada 3.000 lebih, Pramuka juga dilibatkan dalam pengamanan arus mudik ini,” kata Widodo.

Ketupat Muara Takus disebut operasi kemanusiaan dengan fokus utama melayani masyarakat yang merayakan lebaran. Penindakan hukum seperti pelanggaran lalu lintas dikesampingkan sementara, kecuali yang memicu kecelakaan.

“Bukan berarti ada kejahatan dibiarkan, tapi operasi ini sifatnya melayani, memberi rasa aman kepada masyarakat yang merayakan lebaran,” terang Widodo.

Untuk memberi rasa aman kepada pemudik, Polda Riau mendirikan 38 pos pengamanan dan 15 pos pelayanan serta dua pos terpadu. Pos terakhir diisi orang dari berbagai unsur untuk memantau kinerja petugas di dua pos lainnya.

“Operasi ini berlangsung mulai 29 Mei sampai 10 Juni atau 13 hari pelaksanaan,” ucap Widodo.***/zie

Share