oleh

Menyulap Garuda Indonesia Menjadi “One Million Company”

-News-11 views

Ruangan tempat digelarnya acara ‘CEO Speaks Binus Business School’, Rabu (22/4/2015), terasa penuh oleh pengunung. Tak dimungkiri, karena hari itu, hadir Emirsyah Satar sebagai pembicara.

Mantan CEO Garuda Indonesia itu datang untuk berbagi pengalaman semasa memimpin “One Dollar Company” dari 2005 hingga 2014 lalu. Istilah ini dipakai Emir, sapaan akrab pria kelahiran 28 Juni 1959 tersebut, untuk menggambarkan situasi Garuda Indonesia pada masa awal kepemimpinannya.

Karir gemilang Emir membawa perusahaan maskapai penerbangan berpelat merah itu ke puncak kesuksesan patut menjadi contoh sebuah transformasi kepemimpinan. Membawakan tema kepemimpinan bertema “Transformation is a Journey Navigated by Leaders”, Emir membuka rahasia suksesnya mengubah “One Dollar Company” menjadi “One Million Company”.

Mengawali acara, lelaki tamatan Sorbonne University, Paris, itu menjelaskan tentang cara kerja bisnis penerbangan. Menurut dia, bisnis maskapai penerbangan merupakan bisnis yang amat keras. Bahkan, margin tertinggi pada 10 tahun terakhir ini hanya 2,9 persen saja.

Sebagai seorang akuntan, Emir mengaku sadar bahwa saat itu perusahaannya sedang menghadapi kebangkrutan. Ia pantang menyerah. Emir lalu melakukan transformasi internal.

Dengan yakin, Emir mulai membenahi manajemen organisasi, sistem operasional, dan kualitas pelayanan Garuda Indonesia. Kerja kerasnya dimulai.

“Yang pertama-tama saya lakukan adalah mengembalikan kepercayaan internal perusahaan, antar karyawan sendiri. Karena tanpa kepercayaan, bahkan pemerintah atau perusahaan besar sekalipun bisa runtuh,” ujar Emir.

Setelah rencana transformasi rampung, tutur Emir, seorang pemimpin harus mampu mengkomunikasikan hal tersebut kepada semua tim kerjanya.

“Sehebat apapun seseorang, untuk membangun perusahaan yang kuat, tidak bisa sendirian. Saya selalu menegaskan hal itu kepada seluruh karyawan,” katanya.

Emir melanjutkan. Dia mengatakan, begitu menjadi seorang pemimpin, seseorang harus bisa membuat karyawannya bekerja dengan sepenuh hati dan mengeluarkan seluruh kemampuannya, bukan di bawah tekanan.

“Yang terpenting, jangan biarkan mereka takut pada kita. Jika mereka takut, mereka tidak akan memiliki respect terhadap kita. Mereka akan kehilangan motivasi dan inovasi kerja,” kata Emir.

Berdasarkan pemetaan bisnis terbaru rancangan Emir, mutu pelayanan pun ditingkatkan. Tidak main-main. Emir secara khusus memimpin gerakan membersihkan pesawat setiap tiga bulan bersama seluruh perwakilan perusahaan secara serempak. Bahkan, ia tak sungkan untuk itu membersihkan toilet pesawat sendiri.

Tiga faktor

Di bawah kepemimpinannya, dia mengemas Garuda Indonesia hingga memiliki keunikan tersendiri, yaitu “Indonesian Hospitality”. Dia memasukkan sentuhan Indonesia dalam semua pelayanan dan fasilitas Garuda Indonesia, dari mulai suguhan menu, aroma handuk, corak batik pada kursi pesawat, hingga lagu khas Indonesia.

“Ini semua saya lakukan agar penumpang dapat merasakan ke-Indonesia-an selama penerbangan bersama Garuda,” ujarnya.

Alhasil, jerih payah Emir terbayarkan dengan diraihnya setumpuk penghargaan. Puncaknya, pada 2013, Garuda Indonesia berhasil meraih penghargaan sebagai “World’s best Cabin Crew”” mengalahkan pesaing beratnya, Singapore Airlines.

Dengan anggaran promosi terbatas, Emir berani menjadi sponsor resmi klub sepakbola asal Inggris, Liverpool FC. Hasilnya, Garuda Indonesia berhasil menaikkan pamornya di mata internasional.

Pada 2014, Garuda bahkan berhasil menduduki peringkat ke 545 sebagai  Asian 1000 Top Brands menurut AC Nielson. Setahun sebelumnya, maskapai tersebut hanya mampu bertengger di peringkat 965.

Sebelum mengakhiri ceramah, Emir ia menyebutkan, ada tiga faktor utama perlu diperhatikan seorang pemimpin dalam mengembangkan perusahaannya ke tingkat dunia, yaitu, SDM (sumber daya manusia), proses, dan teknologi.

“Terakhir, sesulit apapun masalahnya, jika kita memiliki passion terhadap apa yang kita lakukan, kita pasti menemukan jalan keluar,” ujar Emir.