oleh

Longsor menyebabkan 2 desa di Sumatera Barat terisolir

-News-51 views

Salisma.com – Hingga saat ini setidaknya masih ada 50 titik longsor menimbun daerah di Kecamatan Mapattunggul Selatan, salah satunya di Muaro Sungai Lolo, Sumatera Barat. Sejak satu minggu terakhir distribusi bantuan bencana alam tersendat karena masih terisolasi akibat longsor.

“Iya masih terisolasi Nagari Muaro Sungailolo, karena banyaknya titik longsor,” ujar Sekretaris Daerah Pasaman, A Syafei, Selasa (16/2).

Meski sudah dua unit alat berat dikerahkan, sambung Syafei, namun sudah sepekan lebih akses jalan darat ke Muaro Sungai lolo belum kunjung selesai.

“Bantuan lewat darat sudah disalurkan namun bantuan itu belum sampai ke Muaro Sungai Lolo. Sabtu dan Minggu bantuan didistribusikan dengan menggunakan helikopter,” paparnya.

Sementara itu, Kepala BPBD Kabupaten Pasaman, Sayuti Pohan mengatakan masih ada 50 titik longsor lagi harus diangkat, agar memudahkan distribusi bantuan kepada masyarakat yang ada di daerah terjauh di Nagari Sungai Lolo dan Muaro Sungai Lolo yang tertimpa bencana alam tanah longsor sejak Senin (8/2).

“Bantuan berupa beras bagi masyarakat, serta keperluan lainnya telah ada, namun untuk mendistribusikannya ada kendala, dimana masih ada titik longsor di sepanjang jalan menuju daerah itu dan perkampungan masyarakat harus dibersihkan,” paparnya.

Sayuti menambahkan, saat ini baru sebagin bantuan yang dapat disalurkan ke daerah itu, mengingat kondisi jalan yang ada, sebab itu bantuan yang baru dapat di distribusikan melalui jalur udara dengan menggunakan pesawat bantuan dari BNPB, dimana bantuan itu berupa beras 600 kilogram, untuk tiga kampung yang ada di Nagari Sungai Lolo, yakni Air Manyuruak Pangian, Sungai Lolo, dan Rotan Gatah.

Bantuan memalui jalur darat saat ini siap didistribusikan ke daerah itu berupa beras seberat 4,5 ton dengan cara estafet. Masyarakat yang memerlukan bantuan di daerah itu diperkirakan mencapai 6.400 jiwa.

“Bantuan beras tersebut masih tertahan, karena akases jalan itu, setidaknya ada 13 kilometer lagi yang harus dibuka, hingga kami bisa sampai semua daerah yang ada disana, dan semua masyarakat dapat bantuan tersebut,” ungkapnya.

Seperti diberitakan Antara. Kecamatan Mapattunggul Selatan, merupakan kecamatan terjauh di Kabupaten Pasaman, jarak tempuh dengan kendaraan roda dua dan roda empat, hingga sampai ke Nagari Suangai Lolo, harus memakan waktu selama lebih kurang lima jam, setalah itu untuk sampai ke Nagari Muarao Sungai Lolo, harus dilanjutkan dengan kendaraan boot dengan menyeberangan aliran sungai yang ada di daerah itu.

Sehubungan dengan itu, daerah lain yang saat ini menjadi fokus pengiriman bantuan oleh pihak terkait adalah, daerah Lundar dan Lambak, di Kecamatan Panti, dimana total beras yang disalurkan mencapai 2,2 ton.

“Untuk Lundar dan Lambak, yang juga mengalami bencana alam seperti banjir dan banjir bandang, juga telah ada posko bantuan disana, dimana bantuan berupa beras yang disalurkan mencapai 2,2 ton, selain keperluan masyarakat lainnya,” jelasnya.

Sayuti mengugkapkan, bencana alam terjadi di daerah itu akibat intensitas hujan tinggi dalam dua hari, sehingga pada Senin (8/2) setidaknya tujuh kecamatan dari 12 kecamatan ada di Pasaman terkena dampaknya, yakni Kecamatan Lubuk Sikaping, Panti, Padang Gelugur, Rao Selatan, Rao, Mapattunggul, dan Mapattunggul Selatan. (merdeka.com)