Indonesia Perlu Sistem Peringatan Tsunami seperti di Jepang

SALISMA.COM (SC) – Jepang memang memiliki sistem peringatan dini tsunami yang anyar. Dengan sistem yang bernama DONET atau Dense Ocean Floor Network Systen for Earthquake and Tsunamis, mereka dapat mempersiapkan diri sebelum gempa sampai ke daratan. Hal itulah yang membuat Indonesia mulai melirik sistem peringatan dini tsunami yang diterapkan Jepang sejak 2011.

Sistem ini menggunakan sensor dan kabel bawah laut. “Sistem itu juga bisa bikin kita siap-siap sebelum gempa sampai ke daratan,” kata Udrekh Hanif.

Perekayasa madya Pusat Teknologi Reduksi Risiko Bencana BPPT itu telah merasakan langsung di Jepang. Saat ke sana, pas ada pemberitahuan sebentar lagi akan ada gempa. “Lumayan, kita masih bisa lari keluar sebelum gempanya datang dan itu akurat sekali,” kata Udrekh, Selasa, 25 Desember 2018.

Alat itu bukan untuk memprediksi. Gempanya, kata Udrekh, sudah terjadi tapi guncangannya belum sampai ke daratan. Data gempanya beradu cepat dengan gelombang gempa.

Sistem DONET memakai kabel optik yang mengirimkan data ke daratan dengan kecepatan atau gelombang cahaya. Saat peringatan itu muncul, kereta cepat yang melaju bisa dihentikan. Pun peralatan yang rawan seperti biokimia dan nuklir.

Soal waktu siap-siap sebelum guncangan gempa dan atau tsunami datang, tergantung jarak jauh dekatnya daratan dengan sumber gempa di laut. Misalnya sumber dari zona subduksi yang agak jauh, peringatan dini menjadi sangat bermanfaat. “Sepuluh detik sudah cukup berharga sebelum gempa terjadi.”

Pakar dan peneliti gempa dari ITB Irwan Meilano mengatakan, cara kerja sistem DONET sama seperti alat deteksi tsunami yang mengambang di laut (buoy). Metode DONET berbasis perubahan tekanan. “Jadi ketika tsunami lewat atau terjadi pergeseran (replacement) di dasar laut, kemudian itu terdeteksi oleh sensor sistem,” katanya, Selasa, 25 Desember 2018.

Di wilayah Indonesia, menurut Irwan, tidak mungkin semuanya bisa dipasang sistem DONET. Penempatannya perlu berdasarkan prioritas. “Di wilayah Selat Sunda menjadi penting dan mendesak,” katanya.
Alasannya, karena potensi letusan dan longsoran masih mungkin terjadi dari Gunung Anak Krakatau, sehingga potensi gempa dan tsunami lain masih mengintai dari zona subduksi.

Menurut Udrekh, selain sensor tekanan, juga ada seismometer atau alat pengukur gempa. Alat itu dipasang bersama kabel yang panjangnya ratusan kilometer ke tengah laut.

“Yang sedang kita usulkan, dipasang dari Jawa Barat menyeberang ke Lampung, untuk antisipasi gempa subduksi Selat Sunda,” katanya.

Pemasangan kabel itu idealnya sampai melewati zona subduksi atau penunjaman lempeng. Jaraknya, kata Udrekh, sekitar 200 kilometer. Soal biaya pemasangannya, terhitung sangat mahal.

“Kalau kita bayangkan kehilangan Rp 80 triliun untuk kasus Gempa Lombok, sebenarnya kalau Rp 3-5 triliun untuk investasi alat deteksi dini itu nggak seberapa.Karena kita menghilangkan tingkat ketidakpastian,” ujarnya.

Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) pada 2015 melakukan penjajakan riset bersama dengan Japan Agency for Marine-Earth Science and Technology untuk penggunaan Indonesia-Dense Ocean Floor Network Systen for Earthquake and Tsunamis (INA-DONET) itu.

Agar biaya pemasangan sistem peringatan dini tsunami itu lebih ringan, Udrekh mengusulkan untuk menggandeng pihak lain yang berkepentingan dengan kabel laut untuk jaringan telekomunikasi. (Tempo)

Share