oleh

Facebook Berusaha Keras Cegah Pelecehan Seksual Online

-Tekno-12 views

SALISMA.COM (SC), JAKARTA – Situs jejaring sosial Facebook mengaku belum bisa sepenuhnya mencegah ancaman pelecehan seksual secara online di layanannya.

Kepala Bagian Keamanan Facebook Antigone Davis, mengatakan timnya menilai media sosial besutannya belum bisa memenuhi syarat dalam soal pencegahan pelecehan online.

“Kami melihat masih ada beberapa hal yang perlu ditingkatkan. Facebook sama sekali tidak mentolerir ancaman pelecehan tapi penegakkannya tidak sesuai kebijakan itu,” kata Davis dilansir International Business Times.

Walau demikian, dia mengklaim tim tetap melihat ada peningkatan besar dalam bidang ini. All Rise, organisasi yang bergerak di bidang pelecehan online, mencatat 76 persen bentuk pelecehan yang dilaporkan tidak dihapus dari media sosial terkait.

Menurut Jenifer Swallow, perwakilan organisasi tersebut, 15 persen komentar di situs berbagi video YouTube juga bersifat melecehkan.

Dia menuntut perusahaan media sosial untuk lebih transparan melaporkan masalah ini. “Berapa persentase pelecehan di situs Anda? Apa itu? dan bagaimana Anda akan mengatasinya?” ujar Swallow. Sebelumnya, situs Mashable melaporkan Facebook terus mengembangkan fitur anti pelecehan dan kekerasan demi menjamin keselamatan pengguna wanita saat menggunakan layanannya.

Selain itu, Facebook juga disebut sedang menguji alat yang mampu memberi semacam peringatan kepada pengguna jika ada akun baru yang menggunakan nama dan foto profil mereka.

Mengutip situs The Verge, saat Facebook mendeteksi akun tiruan, alat tersebut akan meminta si pemilik akun asli agar memberi tanda di profil tipuan itu.

Lalu setelah diberi tanda, Facebook akan mengevaluasi akun-akun palsu tersebut secara manual. Hal ini bertujuan memerangi tindak penipuan serta pelecehan di ranah online.

Perusahaan garapan Mark Zuckerberg itu menyatakan tengah mengembangkan dan melakukan serangkaian uji coba sejak November lalu. Dari situ, Facebook mengaku telah melakukan pengujian terhadap 75 persen penggunanya. (CNN INDONESIA.com)